[Sabtu Berbagi] Buku 99 Permainan Tradisional Anak

Pada tanggal 28 Februari 2015, Mbak Aisyah Fad mengisi [Sabtu Berbagi], membahas buku solonya Kumpulan Permainan Anak Tradisional Indonesia, berikut materi dan diskusinya di grup FB IIDN Makassar.


Apa kabar teman-teman?... Makassar selalu menyisakan kerinduan. IIDN Makassar keren. Sukses buat Marisa Agustina yang menyabet IBF Award, semoga yang lain segera menyusul, amin.

Saya akan berbagi sedikit, behind the scene buku pertama saya "Kumpulan Permainan Anak Tradisional Indonesia". Ceritanya begini :

Dulu, ada teman anak saya kecanduan game, hingga uang SPP nya beberapa kali tak dibayarkan. Kok jadi ngeri ya, mau jadi apa cucu-cucu kita 30 tahun mendatang, jika anak-anak kita saja sudah kecanduan game (permainan di komputer/video game/internet)?

Betapa dulu kita bisa bermain asyik tanpa game. Dan bahkan dalam keasyikan itu tanpa sadar kita telah mengasah ketangkasan, kepemimpinan, kreativitas, kerjasama, bahkan juga strategi dan wawasan, yang membentuk diri kita saat ini.

Namun, mengapa anak sekarang lebih suka tombol game? Salah satunya adalah karena mereka tak kenal dan tidak dikenalkan. Teman-teman mereka hanya mengenalkan game online. Sedangkan orang tua, pernahkah kita “secara spesial” meluangkan waktu mengenalkan kepada mereka sebuah permainan?

Bagaimana jika orang tua juga hanya tahu sedikit, tentang permainan tradisional ini? (itulah saya hehe. Tapi dulu, sebelum menulis buku ini).

Berangkat dari keinginan agar si kecil menikmati permainan masa kecil saya, menikmati keasyikan dan ke ‘seru’ yang pernah saya rasakan, muncullah pikiran, “Pengen,ah! Nulis tentang permainan.“

Tanpa diduga muncul kebutuhan penulis permainan anak. Gayung bersambut, saya langsung mengajukan diri. Dan mulailah hunting buku macam-macam buku permainan anak, membuat outline dan diajukan. Lalu gol,..mulai menulis deh.

Kerja dimulai dengan membandingkan buku-buku sejenis, lalu Saya menggali pengalaman bermain dari beberapa responden. Reaksi para responden sangat wow! Saat menjelaskan, seolah-olah mereka bernostalgia dengan masa kecil, dan menjadi lebih hidup ketika beberapa responden yang berasal dari daerah lain menimpali.

Yang membahagiakan adalah ketika mengajarkan pada anak-anak disekitar rumah saya, mereka sangat antusias. Namun karena jenis permainan itu banyak, saya berikan saja mereka satu buku, supaya mencoba-coba sendiri.

Alhamdulillah sampai sekarang mereka masih sering mainkan, terutama bentengan, gobak sodor, dan kotak pos. Mungkin teman-teman juga harus mulai melirik anak-anak disekitar, yuk kita berikan pada mereka permainan yang mendidik dan mengasah.

Saya bersyukur pula ada seorang mahasiswa yang menjadikan buku ini sebagai salah satu bahannya (dia mengirimi saya email).

Dan sekarang jika bungsu saya keasyikan lihat TV, saya tinggal ambil buku ini, nyari permainan indoor, trus mancing-mancing deh. Biasanya do’i kepancing, TV dimatikan mainlah permainan Lima Jadi, Tolah-Toleh, Bingo, atau yang lainnya.

Guru kelas anak saya juga seneng banget ketika saya menyumbang buku ini, karena dilengkapi dengan permainan kepramukaan, outbond, dan 17 agustusan seluruhnya (99 permainan).

Oya saya juga melengkapi buku dengan ide pengembangan, sehingga permainan tidak monoton. Juga tabel nilai skill untuk permainan. Mulai dari Ketangkasan, Kepemimpinan, Kreativitas, Kerjasama, Strategi dan Wawasan.
Selamat menulis kawan. Selamat berkarya,... Semangat!!

Daaan ..... berikut ini diskusinya:

Tanggapan (T): Faradillah Hamzah Keren Kak  Emak-emak harus tau ini. Di Sul-Sel sendiri, permainan tradisional sangat banyak jenisnya. Tapi sayang sudah tidak dilirik lagi.

Jawab (J): Faradillah Hamzah, iya bahkan dulu ketika saya pindah dari Makasar untuk kenang-kenangan, teman-teman anak saya beri Bekel Jawa. Di Makassar anak bekelnya kan dari kerang, kalau di Jawa dari tembaga dan sisinya lebih banyak. Sayang kalau mereka besar tak ada kenangan bermain masa kecil.

T: Andi Bunga Tongeng Di Makassar sudah 2 atau 3 tahun ini dilaksanakan festival permainan tradisional nah. Orang bule kadang ikut main juga lho ...

J: Andi Bunga Tongeng, asyik dong, kesempatan ngenalin ke anak-anak. Makassar emang nggak pernah mati festival. I love it.

Tanya (T): Andi Bunga Tongeng Di festival tersebut, orang dewasa pun memainkan permainan tradisional. Seru. Sampai dipertandingkan. Oh iya. Bgm cara riset sederhananya untuk tahu sampai 99 permainan? Apakah semuanya mrp permainan yg sudah ada atau ada yang Mbak Aisyah ciptakan?

J: Andi Bunga Tongeng iya sih sebenarnya. Saya juga sering kok mainin dengan anak-anak. Dan kalau pas saya asyik main gitu mereka tampak senang sekali. Yang susah malah kalau mereka gak mau berhenti. Kalau riset sih nggak susah, karena setiap orang dewasa kan punya masa kecil. Saya nanya permainan favorit mereka, kemudian browsing (di internet) dan dicocokin dengan buku-buku. Kadang ada beberapa perbedaan antara buku dan yang mereka mainkan. Saya ambil yang termudah. Kadang satu permainan dimainkan berbeda pada 3 daerah, meskipun aturan bakunya sama.

Kalau ide pengembangan 100% karangan saya. Sedang yang Tolah-Toleh, itu permainan keluarga, biasanya kalau anak-anak di kendaraan rewel saya lenakan dengan permainan itu, juga kalau mereka kancilen (gak mau tidur-tidur). Karena melihat manfaatnya banyak dan simpel, saya masukkan saja.

T: Mugniar: Selalu salut sama Mbak Aisyah Fad, ulet banget dalam mengerjakan buku. Padahal mulai menulis sama seperti saya juga, setelah punya anak (kalau tidak mau dibilang setelah tua hahaha). Oya, kesulitan terbesarnya apa dalam penulisan buku ini?

J: Mugniar, terimakasih juga menyeret saya berbagi disini. Kesulitannya selalu sama deadline-nya yang cuma 2 minggu, jadi ya kalau sudah ketok palu outline diterima maka konsen full-lah saya ke tulisan.

T: Mum Mukholi: buku kak aisyah ini diajukan ke penerbit dalam bentuk outline saja atau sudah keseluruhan naskah?

J: Mum Mukholi, seingat saya outline.

T: Nur Syamsi: Wah mantap kak Aisyah.  di sekolah kami jg sering diadakan lomba mainan tradisional. Biasanya memeriahkan hari Sumpah Pemuda.

J: Nur Syamsi, kalau di sini, 17 Agustusan yang sering. Tapi di sekolah anak saya beberapa permainan tradisional difasilitasi.

T: Marisa Agustina Makasih dah berbagi mba Ai. Kereeen bukunya, pengen hunting ah, soale dulu saya otaknya tukang main waktu kecil hihi.

J: Aisyah Fad Marisa Agustina, hayoo kutunggu Sabtu Berbagi-mu

T: Arniyati Shaleh Kerennaaa. Maaf baru buka fb.

J: Aisyah Fad Makasih kak Arniyati Shaleh

T: Nur Sahadati Amir dulu waktu masih kecil saya sukanya main "dende" (bhs indonesianya apa ya?)

T: Wah dende itu petak umpet ya?

T: Mugniar Bundanya Fiqthiya Bukan, Mbak Aisyah Fad ... dende itu yang gambar petak-petak/kotak-kotak di tanah terus anak-anak melompat-lompat di atas/melalui petak-petak/kotak-kotak itu

T: Haeriah Syamsuddin: Dende itu engklek, kebetulan termasuk salah satu mainan mencerdaskan yang saya masukkan dalam buku Brain Game Untuk Balita (maaf, ikutan promosi buku). Dende termasuk mainan kesukaanku waktu kecil.

J: Mugniar, wah... dende ternyata favorit dimana-mana. Saya juga suka, malah kalau tidak selesai hari ini diteruskan hari berikutnya... nyambung terus. Haeriah Syamsuddin, saya ada beberapa brain game balita, tapi terbitan lama. Dan memang manfaatnya banyak. Selamat ya Say atas bukunya.

T: Ida Basarang Baru menyimak diskusi ini. Wuihhh kerennya buku ta’, Kak, nanti kalau saya ke Gramed saya mau cari. Kebetulan punya dua ponakan yang matanya selalu tertuju ke gadget dan PS, sampai-sampai setiap Sabtu – Ahad sudah kayak camp saja di rumah, banyak anak ngumpul dan riuh sekali. Mau coba-coba mengalihkan perhatian mereka hehehe

T: Mugniar: Pernah lihat buku ini di Gramedia MARI, Ida Basarang. Mudah-mudahan masih ada.


J: Ida Basarang, insya Allah bisa dialihkan tapi harus didampingi dulu. Kalau langsung dikasihkan begitu saja biasanya akan ditaruh begitu saja. Di bagian depan buku saya ada macam-macam suit. Ida pura-pura aja bingung dengan suit, pasti deh mereka berebut ngajarin. Ujung-ujungnya diarahin ke permainan dalam buku. Dulu saya juga begitu cara menarik anak-anak.

0 komentar:

Posting Komentar